Kamis, 10 Juni 2010

SAPEDA

oleh: Nurwahidin

Pemain:
Dg Kulle (Bapak)
Dg Kebo (Amma)
Baco
Bacce

I
Dg Kulle adalah seorang petani berumur 40 tahun yang hidup bersama seorang istri dan 2 orang anak. Mereka tinggal di sebuah kampung terpencil dengan gubuk kecil sebagai tempat tinggalnya. Di dalam gubuk inilah kisah ini dimulai. Dg Kulle baru pulang dari kebun masuk ke rumah dan mencari istrinya.

Dg Kulle
Kebo’... oo Kebo’!!

Dg Kebo
Iye!! (sahut Dg Kebo).. ih, pulangmi Daengku... pasti capekki daeng, dudukki dulu daeng kuambilkanki kopita. (Dg Kebo masuk ke dapur mengambil kopi)

Dg Kulle
Baek mentong istriku... ternyata saya tidak salah memilih bunga.. (sambil tersenyum)

Dg Kebo
(keluar dari dapur dan menghampiri Dg Kulle) ini kopita Daeng..(menyodorkan kopi)

Dg Kulle
(minum kopi).. ededeh.. tidak adaka itu yang manis-manis? (sedikit jengkel)

Dg Kebo
Adaji! Mauki? (tersenyum)

Dg Kulle
Apa? (heran)

Dg Kebo
Saya.. maniska toh?? (menghibur suaminya)

Dg Kulle
(tersenyum bahagia) hehe.. pintar mentong istriku..
Kemudian tidak lama setelah Dg Kulle dan Dg Kebo bercengkrama, datanglah Baco dan Bacce

Baco dan Bacce
Assalamu Alaikum..

Dg Kulle dan Dg Kebo
Wa alaikum salam..

Dg Kebo
Datangmi anakku, dapatjaki rangking nak?

Bacce
Rangking 2 amma.. i Rani rangking 1

Dg Kulle
Kau Baco, rangking berapako?

Baco
Rangking 11 ka bapak. Tapi tetapja dibelikang sepeda toh? Karna adaji 1-nya. Dua poeng satunya Bapak.

Dg Kulle
Hehe... i Bacce cocokji dibelikang karna beda sedikitji..

Baco
Apaji bapakku, kukira saya dibelikang tomma sepeda karna dua satuku..

Bacce
Lebih baik bajumo bapak, karena kecilmi bajuku, 5 tahunmi kupake kodong..

Dg Kebo
Sabarki nak! Insya Allah kalau ada rezki di belikanmaki itu..

Dg Kulle
Iya, nanti hari senin saya belikanko.. tapi belajarko yang rajin supaya janganko juga seperti Bapak nah.

Baco dan Bacce
Iye Bapak.
Dg Kebo
Kalau begitu pergimaki dulu tidur siang nak, supaya sehat..

Baco dan Bacce
Iye Amma

Dg Kebo
Kita Daeng, mandimaki dulu baru istirahatki juga.

Dg Kulle
Mauja kalau dimandikanka... hehe.. bercandaji...

(mereka kemudian meninggalkan ruangan dan lampu padam)


II
Pada hari senin, sepulang dari sekolah Baco yang paling merasa senang karena dijanji akan dibelikan sepeda sesampainya di rumah.

Baco
Bacce, banyaknya orang di rumah.. pasti adami sepeda baruku, dan tentunya bagus sekali jadi banyak orang mau liatki..

Bacce
Ngapami daengku, sepeda mami di pikiranna.

Baco
Cepatmako Bacce!!

(Baco dan Bacce kemudian berlari menerobos kerumunan orang-orang langsung masuk ke rumah dan melihat ibunya sedang menangis dan babak III dimulai)

III
Dg Kebo
Baco... Bacce.... Bapaknu nak!! (sambil terisak tangis)

Baco
Kenapai Bapakku Amma?? Kenapai?

Dg Kebo
(melirik Dg Kulle sambil menangis)


(Baco dan Bacce menghampiri ayahnya yang terbaring. Bacce tak kuasa menahan tangisnya. Sedangkan Baco masih bertanya-tanya ke heranan)

Baco
Ua’, kenapai Bapakku? Kenapai Ua’?

Ua’
Katanya Amma’nu, tadi pagi bapakmu pergi ke kota dengan maksud membeli sepeda. Tapi di jalan di tabrak mobil. Jadi.....

Baco
(Menangis terseduh namun berusaha menahannya)
Maafkanga Bapak, semuanya gara-gara saya. Sekarang berjanjika untuk rajin belajar dan membuat ammakku bangga melahirkanku.

Lampu padam

Kelaparan

oleh: Nurwahidin NL

Aku sudah bosan berada di ruangan ini. Ruangan yang berisi dua buah tempat tidur besi beserta meja obat di dekatnya. Aku terbaring lesu di tempat tidur, berselimut putih ditambah bantal dan guling yang juga bersarung putih. Tangan kiriku yang diinfus kuletakkan di atas guling.
Di atas meja obat terdapat beberapa buah kesukaanku, ada pisang, apel dan jeruk. Di antara buah itu ada sebuah topples plastik bertuliskan Indonesia yang aku dapat sewaktu pembagian sembako oleh salah satu caleg tiga bulan yang lalu. Topples itu berisi gula pasir. Di sampingnya berdiri termos air panas yang setiap pagi dan sore diisi air panas oleh ibu. Di dalam laci meja, ada dua kaleng susu coklat yang jarang aku dapatkan.
“Minum susunya Nak!”
“Ah, Aku tidak suka.”
“Minum susu dulu sebelum tidur Nak! Ini kan susu kesukaanmu?”
“Iya, itu dulu sebelum sakit. Sekarang tidak lagi”
“Minum dulu susunya, biar lekas sembuh, tidak usah habiskan”
Terpaksa aku minum susu itu. Aku heran dengan ibu, kenapa aku diberikan susu hanya ketika sedang sakit, waktu sehat tidak? Setelah minum susu aku lekas tidur. Sebelum mataku terpejam, sekilas aku menatap jam yang menunjukkan pukul 11 malam.
***
Aku kaget ketika terjaga dari tidurku. Aku dapati diriku tak berada di ranjang lagi melainkan di salah satu kaki ranjang. Selain itu, tubuhku berubah dalam ukuran yang tidak normal. Bahkan dalam bentuk yang tak seperti manusia berumuran belasan tahun tapi dalam bentuk serangga.
Kaki serta tanganku berubah menjadi kecil dan tipis. Di kepalaku tumbuh sepasang tentakel. Dadaku bertambah kecil tapi perutku membesar dan bersuhu panas. Gerakan tubuhku tak bisa aku kontrol. Aku belum mengenali diriku yang baru.
Dari arah depan, di bawah pintu muncul kawanan serangga yang sepertinya serupa denganku. Baru aku menyadari bahwa ternyata tubuhku berubah menjadi semut kecil. Kawanan semut itu datang menghampiriku.
“Gimana San, kamu ikut kami kan?”
“Kemana?”
“Ya kemana lagi selain mengambil gula itu.”
Pandangan kami tertuju pada topples Indonesia berisi gula pasir yang disimpan oleh ibu semalam sebelum aku berubah menjadi seperti ini. Aku heran mengapa mereka mengenalku? Bahkan mengajakku ikut mendukungnya menjadi pemimpin pasukan tim pengangkut gula pasir.
Beberapa saat kemudian, muncul lagi kawanan baru dari lubang lantai di ujung pintu. Mereka juga datang menghampiriku. Sepertinya kedua kubu ini memperebutkan jabatan pemimpin pasukan tim pengangkut gula pasir. Aku kemudian menyatu dengan semua kawanan semut itu, lalu akhirnya aku tahu bahwa kawanan pertama dipimpin oleh Ogi dan yang kedua dipimpin oleh Bayu.
Tiba-tiba datang lagi kawanan semut lain yang tak kalah serunya. Kawanan itu dipimpin oleh semut betina, Eda namanya. Beberapa jenak kemudian mereka bercengkrama yang dimulai oleh Ogi dengan menonjolkan strateginya.
“Kita tidak boleh gegabah untuk membawa topples itu, kita harus menggunakan strategi dan formasi yang baik untuk melakukannya agar semua berjalan lancar. Sebagaimana formasi yang kita jalankan minggu lalu. Jadi mungkin formasi itu sebaiknya kita lanjutkan.”
Pernyataan Ogi disambut tepukan oleh rombongan semut yang ia bawa. Namun di sisi lain, Bayu dan rombongan-nya menyambut dengan raut muka jelek.
“Tidak perlu formasi yang elit. Kita mesti bergerak lebih cepat, karena lebih cepat lebih baik. Jangan sampai kawan-kawan kita mati kelaparan sebelum mendapatkan gula dalam topples itu.”
Ogi dan Bayu bersitegang pendapat hingga memakan waktu yang cukup lama tanpa memberi kesempatan kepada Eda untuk berpendapat. Maklum, rombongan Eda pada dua minggu yang lalu melakukan suatu hal yang tidak terpuji di kalangan semut. Dia menjual sebagian dari makanan yang diperoleh kepada kawanan semut bersayap, padahal masih banyak kawan-kawannya yang belum makan pada hari itu. Sehingga mau tidak mau, Eda dan rombongan-nya harus terkucilkan di mata rombongan Bayu dan Ogi.
Aku sebagai semut yang baru melihat mereka kemudian berfikir kenapa mereka tidak bergabung saja menjadi satu dan membawa topples itu bersama-sama. Mungkin itu lebih baik dan bisa semakin mempererat persatuan mereka.
“Mengapa kalian tidak bersatu saja. Maksudku, kehebatan formasi dan strategi Ogi dilaksanakan dengan pergerakan cepat oleh Bayu sehingga semuanya sinergis. Kemudian Eda dan rombongan bisa menjadi pendobrak atau pengangkut yang handal atau apalah namanya?”
Aku berharap saranku bisa menyatukan mereka. Tapi ternyata tidak, mereka tetap bersitegang pendapat dan waktu semakin jauh berjalan tanpa memperdulikan perdebatan alot antara mereka. Sejenak kemudian Bayu merespon pendapatku.
“Tidak boleh begitu Sandy, budaya kita memang mengharuskan kita untuk memilih satu pemimpin untuk membawa kita mendapatkan makanan.”
Aku tersentak dan teringat sesuatu sebelum berubah menjadi serangga. Ternyata semut juga berdemokrasi layaknya manusia memperebutkan bangku jabatan.
Aku tak menyangka perdebatan mereka begitu panjang sehingga……
“Gawat Ruben meninggal..!!”
Salah satu diantara rombongan itu meninggal karena kelaparan sebelum mereka bersepakat. Sungguh disayangkan perdebatan alot yang begitu lama tidak membawa pada kesejahteraan melainkan kelaparan yang berujung pada kematian.
Entah mengapa aku juga turut bersedih melihat kejadian itu hingga air mataku mengalir. Kemudian aku berpikir apakah semut juga bisa menangis? Dan tiba-tiba aku merasa sepertinya ada yang memegang lenganku.
“Sandy.. Ayo bangun Nak! Sudah pagi.”
Perlahan mataku terbuka. Ah.. ternyata semut itu hanya mimpi. Mataku langsung tertuju pada topples yang diperebutkan itu masih utuh seperti semalam sebelum aku tidur. Dalam hati, aku berdoa supaya tidak ada satupun diantara kita yang bernasib seperti si Ruben, semut kelaparan.

FBS UNM, 2009

Naskah Drama Anak: Ari, Dedi, dan Jupri

Oleh: Nurwahidin

PEMAIN
1. ARI
2. DEDI
3. JUPRI
4. ANI
5. IBU DEDI
I
Tiga orang anak lelaki yang masing-masing bernama Dedi, Ari, Jupri. Mereka bertiga adalah teman sekelas dan sepermainan. Pada suatu hari mereka bermain kelereng di halaman rumah Ari dan saat itulah cerita ini di mulai.
Dedi & Jupri
Ari... Ari....(memanggil Ari dari luar)
Ari
Iya... tunggu. Ih, datangmako.
Dedi
Iya, ayomi main.
Jupri
Di sinimo di’, karena luasji juga
Ari
Iya di sinimaki..

Mereka kemudian bermain kelereng di halaman rumah Ari. Sesekali ada yang curang tapi canda memenuhi permainan itu. Kemudian Ani adik Ari datang membawa kue dan mengajak mereka makan.
Ani
Kak, ini ada pisang goreng. Enak loh masih panas.
Dedi
Wah. Enak tuh, makan dulu deh..
Ari
Umm dedeh, kau itu Dedi kalau makanan cepat sekaliko.
Jupri
Iyo.. mentong ini Dedi. Tapi cuci tangan dulu deh.
Dedi
Janganmi. Tidak usah cuci tangan. Langsung saja deh.
Ari
Janganmi kau kalau tidak mauko.

Ari dan Jupri keluar panggung, sedangkan Dedi menghampiri makanan yang dibawa Ani sekaligus menggoda Ani.
Dedi
Pasti enak, dan seenak orangnya. Eh maksudku orangnya cantik. (sambil tersenyum)
Ani
Umh.. gombalmi seng...
(Ari dan Jupri datang dari pinggir panggung dan berbisik kepada Ari)
Jupri
Ari.. pasti digombalki Ani sama Dedi. Lihatmi itu sana! (Menunjukkan pada Ari)
Ari
Eh, pasti cemburuko toh? Kau suka juga adekku toh? Ngakumako.
Jupri
Tidak...tidak... tidak salah maksudku...hehehe
Ari
Ayomi ke sana deh... nahabisi nanti pisang gorengnya Dedi
(mereka semua duduk dan menikmati kuenya sampai habis)
Dedi
Enaknya... eh, soremi pulangma nah, dicarima ini.
Jupri
Saya juga.
Jupri dan Dedi
Makasih Ani kuenya..
Ari
Pulangmako cepat deh....

Dedi dan Jupri berjalan keluar panggung, Ari dan Ani masuk rumah dan lampu padam.

II
Pada malam harinya, suasana tetap di halaman rumah Ari yang sunyi. Kemudian Jupri datang.
Jupri
Ari....Ari.. (memanggil Ari)
Ari
Iya... (muncul dari pintu) ada apa Jup?
Jupri
Dedi, Ri.. Dedi sakit. Ayo kita jenguk ke rumahnya.
Ari
Ayo kita ke sana... (kemudian berteriak ke dalam rumah) Bu, saya jenguk Dedi dulu ke rumahnya.
Ibu
Iya, hati-hati di jalan
Ari
Ayo kita pergi..

Mereka pergi meninggalkan rumah dan lampu perlahan padam.

III
Dengan latar ruang tamu di rumah Dedi, orang yang sedikit berada dibandingkan kedua temannya. Dedi yang sedang sakit di temani ibunya dan kemudian Ari dan Jupri datang.
Ari dan Jupri
Assalamu Alaikum..
Ibu Dedi
Wa alaikum salam... eh, Ari dan Jupri. Ayo masuk nak.. (ajak ibu Dedi)
Ari
Sakit apai Dedi Bu?
Ibu Dedi
Sakitki perutnya, katanya dokter gara-gara dia makan makanan yang kotor..
Jupri
Owww... bukan makanannya yang kotor, tapi tangannya Bu, tadi makanka pisang goreng di rumahnya Ari baru dia sendiri yang tidak cuci tangan.
Ibu Dedi
Oww.. pantasan.. baru Dedi tidak bilang-bilang sama ibu dan dokter.
Ari
Tapi sudahmi minum obat Bu?
Ibu Dedi
Iya, tadi sudah minum obat yang dikasi sama dokter..
Ari dan Jupri
Oww.. alhamdulillah.
Jupri
Kalau begitu kami pamit pulang dulu Bu. Dedi istirahatko nah...
Ibu Dedi
Iya nak. Hati-hati di jalan

Ari dan Jupri keluar, kemudian Dedi di bawa oleh Ibunya memasuki kamar. Dan lampu perlahan padam.
IV
Suasana di pagi hari dalam rumah Dedi. Dedi masih dalam kamar, sedangkan ibunya mempersiapkan sarapan di dapur. Kemudian Ari dan Jupri datang.
Ari dan Jupri
Assalamu Alaikum.
Ibu Dedi
Wa alaikum salam.. eh Ari dan Jupri, masuk nak!
Ari
iya Bu.. sudahmi Dedi pakaian Bu?
Ibu Dedi
Sudahmi tapi belum sarapan, sekalian kalian sarapan sama-sama yah. (kemudian memanggil Dedi) Dedi.... Dedi.... temanmu datang.

Dedi
(keluar dari kamar) iya Bu. Eh adamako. (Dedi kemudian duduk dan Ibunya masuk ke dapur)
Jupri
Eh, sudahmi PR Matematikamu?
Dedi
Pastimi sudah.. PR kan di kerja di rumah bukan di sekolah toh..
Ari
Kalau di kerjakan di sekolah bukan PR namanya, tapi Pekerjaan Sekolah. (mereka semua kemudian tertawa)
Ibu Dedi
(datang membawa roti dan susu) ini sarapan dulu nak supaya pelajaran masuk di otak dengan baik.
(ketiganya bersamaan mengulurkan tangan)
Ibu Dedi
(menarik lagi piring roti) eh, sebelum makan apa?
Ari, Dedi dan Jupri
CUCI TANGAN DULU
Ibu Dedi
Pintar.. ayo ke sekolah nanti terlambat...

Ketiga anak itu kemudian pergi dan ibu membawa gelas susunya ke dapur. Kemudian lampu padam.

Senin, 10 Mei 2010

Losariku di malam minggu

tak kuasa kumenahan rasa lelah mengerjakan tugas kampus. akhirnya kuputuskan untuk mengobatinya pada pemandangan laut pantai losari. merasakan hembusan angin mammiri...
tak kusangka pemandangan yang begitu indah kurasakan tiba-tiba di remukkan oleh arus besar yang menggerakkan sungai begitu cepat.. bukan arus besarnya yang menjadi luka di mataku melainkan sampah-sampah berserakan ikut terseret di dalamnya...

Pesan

rebahkan tubuhmu padaku sedetik kumemohon
agar kudapati aroma darah yang mengalir dalam tubuhmu
kan kuteteskan keringat kerinduanku akan hasrat itu
tetesan itu akan menyatu dengan keringatmu
kemudian merasuk dan menyatu ke dalam darahmu lewat pori-pori
kan kutitipkan pesan bahwa pernah "memenjarakan namamu dalam singgasana hatiku
tertinggi walau tak pernah ku dekap ragamu dengan bisikan rindu

Kepada si Pelupa

pada sembilan dalam ribuan akhir delapan
kubenangkan merah pada tenunan
satu dalam kain merah putih
satu ikrar dalam darah....

dalam jalan setapak pada ribuan akhir sembilan
tenunan merahku kian robek
tersayat
terkoyak
hingga kainku kini terurai jadi beberapa helai BENANG MERAH

kurajut kembali benangku dalam kain putih
Benangku tetap saja MERAH
kurajut dalam kain hitam
Benangku tetap saja MERAH

kupahami sesaat
Benang Merah tetaplah MERAH
takkan pernah jadi Benang Putih, abu-abu, ataupun hitam
kan jadi layar pada Pinishi

Hasrat

ingin kucabut badik dari pinggangku
lalu perlahan kutusukkan ke dalam perutmu
kugoyangkan badikku hingga
tubuhmu tak mampu lagi menyemburkan darah

kutarik kembali tanganku
seiring terburainya usus panjangmu...
setidaknya mengobati HASRATku menyetubuhimu

pada sebuah ruang, 2 april 2010

GuestBook